Penanaman disiplin yang dilakukan oleh orang tua bertujuan untuk mengatur perilaku anak agar menjadi anak yang baik. Penerapan disiplin itu sendiri harus dilakukan secara konsisten dan konsekuen. Misalnya anak dihukum karena melakukan perbuatan yang salah, namun pada kesempatan lain ketika anak melakukan perbuatan yang sama seharusnya anak juga dihukum bukan membiarkan anak begitu saja. Anak memerlukan gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang dilarang dan diperbolehkan. Maka peraturan itu sendiri menjadi tidak bermakna di mata anak apabila peraturan yang dibuat tidak konsisten. Selain itu perlu adanya kesepakatan antara ayah dan ibu mengenai peraturan yang ditetapkan, pada penerapannya tidak ada perbedaan dalam memberikan disiplin pada anak. Karena perbedaan pendapat antara ayah dan ibu mengenai peraturan dalam rumah akan membuat anak menjadi bingung. Misalnya ketika ibu melarang anak bermain bermain PS di waktu belajar, tetapi ayahnya justru memperbolehkannya. Hal ini akan membuat anak menjadi bingung mengenai peraturan yang sebenarnya dibuat oleh orangtuanya.

Penerapan disiplin biasanya dilakukan dengan memberikan hukuman bila anak melakukan kesalahan. Namun hukuman fisik tidak dibenarkan dalam pembinaan disiplin. Pemberian pujian terhadap hal baik dan tidak memuji apabila melakukan hal buruk efeknya lebih baik daripada menghukum anak salah. Teguran seharusnya diberikan langsung terhadap anak setelah melakukan kesalahan, sehingga anak bisa melihat hubungan logis antara kesalahan anak dan teguran orangtua. Orang tua yang terlalu banyak memberikan larangan menyebabkan anak pasif karena takut salah. Hal ini mendorong anak bersifat negativistik, atau melawan. Karena anak usia sekolah cenderung tidak menurut pada orang tua.

ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi. ASI tidak hanya memberikan manfaat untuk bayi saja, melainkan untuk ibu, keluarga dan negara. Manfaat air susu ibu menjadi satu-satunya makanan paling tepat untuk bayi hal ini sudah disepakati bersama oleh para ahli, terutama pada 4-6 bulan pertama kehidupannya. Semua kebutuhan zat gizi bayi terdapat pada ASI. Ibarat tabungan, ASI menjadi investasi yang sangat berharga bagi kehidupan bayi kelak. Tak hanya bagi pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otaknya. Nilai gizi ASI tak dapat dikalahkan sekalipun oleh susu formula yang sudah diperkaya dengan berbagai nutrisi.
Di dalam ASI terdapat tiga komponen. Yang pertama adalah air, sebanyak 87 %. Berikutnya adalah susu, dan sang ibu sendiri yang menyusui. Tingginya kandungan air membuat bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak memerlukan tambahan air lagi. Walau komposisi terbesar ASI adalah air, kandungan zat gizi lainnya tak kalah banyaknya. Tingginya gula susu (laktosa) pada ASI, sangat penting untuk perkembangan otak bayi. Protein ASI juga lebih mudah dicerna ketimbang protein susu sapi.
Kolostrum yang berwarna kekuningan dan lebih kental, kaya akan vitamin A dan antibodi, yang membuat bayi lebih kuat terhadap serangan penyakit. Kolostrum juga mengandung sel darah putih, laksatif atau pencahar, dan faktor pertumbuhan. Adanya kolostrum membuat bayi terlindung dari infeksi alergi, menyempurnakan usus, serta mencegah terjadinya penyakit mata. Dan sudah pasti, kolostrum hanya terdapat di dalam ASI. Kolostrum pertama kali keluar setelah ibu melahirkan. Beberapa hari kemudian barulah disusul keluarnya susu dewasa (mature milk). Pada “susu dewasa” ini, komposisinya berubah. Susu dewasa mengandung laktosa lebih tinggi daripada ASI. Sebaliknya, protein pada kolostrum ASI lebih tinggi daripada mature milk.
Dalam ASI juga terdapat berbagai vitamin, seperti vitamin A dan C. Kadar vitamin C lebih tinggi dibanding vitamin A. Pada susu sapi, kandungan vitamin C dan A jauh lebih sedikit daripada yang terdapat pada ASI. Zat besi pada ASI juga lebih mudah diserap. Sekitar 50 persen zat besi ASI akan diserap, namun pada susu sapi, hanya 10 persennya yang akan diserap tubuh. Lemak yang terkandung dalam ASI tidak hanya DHA (docosahexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid), tetapi juga enzim lipase. Enzim ini berguna untuk mengatalisasi pemecahan asam lemak.
Berkaitan dengan pentingnya ASI dalam 1 jam pertama maka dianjurkan sesegera mungkin meletakkan bayi yang baru dilahirkan pada dada ibunya dan membiarkannya selama 30 – 60 menit. Kontak dari kulit ke kulit segera setelah lahir dan menyusu sendiri setelah satu jam pertama kehidupan itu sangat penting karena pada jam pertama bayi menemukan payudara ibunya merupakan awal suatu life sustaining breastfeeding relationship antara ibu dan bayi menyusui. Ibu tidak perlu takut bayi akan kedinginan, karena saat bayi berada di dada ibu, dada ibu akan menstransfer kehangatan pada sang bayi. Namun suhu ruangan tidak kurang dari 27oC , mereka akan saling menghangatkan. Bayi berkurang stres, lebih tenang, pernafasan dan detak jantung lebih stabil. Bayi memperoleh kolostrum sebagai minuman pertama dan sentuhan tangan, mulut dan kepala bayi serta isapan pada payudara merangsang produksi Oxytocin. Oxytocin menyebabkan kontraksi rahim, merangsang hormon lain yang menyebabkan ibu merasa senang dan relaks, serta merangsang aliran ASI dalam payudara ke mulut bayi.
Beberapa manfaat ASI untuk bayi adalah sebagai nutrien (zat gizi) yang sesuai dengan kebutuhan bayi. ASI juga mengandung zat protektif sehingga bayi jarang sakit. ASI mempunyai efek psikologis yang menguntungkan bagi ibu dan bayi, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi baik, mengurangi kejadian karies dentis, dan mengurangi kejadian maloklusi.

Perkembangan bahasa pada anak tidak lepas dari peranan orang tua anak. Anak pertama kali belajar segala sesuatu di lingkungan keluarga dan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Hal ini membuat orang tua memiliki andil besar dalam pendidikan anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan anak. Yang penting, bagaimana orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. (Anomim 2009a)
Peranan orang tua yang begitu penting menuntut orang tua jeli dalam mengajari anak. Orang tua harus memahami tahapan-tahapan perkembangan bahasa pada anak agar mereka dapat memberikan stimulus sesuai usia bayi/anak. Perolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya (mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin) memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak.
Pada saat anak masih bayi sering kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun orang tua terkadang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil selalu berusaha agar orang lain mengerti maksudnya. Hal ini yang mendorong anak untuk belajar berbicara.
Terkadang dalam proses berbicara anak sulit memahami pembicaraan orng lain, karena kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Apalagi bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua seharusnya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.
Selain itu keterampilan anak dalam berbicara memerlukan latihan yang terus menerus, untuk itu orang tua harus memberikan latihan untuk keterampilan berbicara pada anak, tentu saja dengan cara yang menyenangkan dan tanpa adanya paksaan.(Anonim 2009b)
Orang tua seharusnya memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau membetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan.
Untuk melatih keterampilan menyimak, orangtua bisa mendongengkan pada anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).
Orang tua juga harus memperhatikan bagaimana lingkungan mempengaruhi perkembangan bahasa anak, misalnya banyak acara televisi yang menarik yang membuat anak-anak suka menonton TV, disini peran orang tua dalam mendampingi anak-anaknya sangatlah penting. Kalau orang tua tidak mendampingi anak saat mereka menonton TV anak akan dengan mudah meniru kata-kata di televisi yang kurang baik. Selain itu lingkungan dan temen bermain juga sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa anak. Anak sangat mudah meniru dan mengikuti kata-kata yang diucapkan orang lain. Bahkan kalaupun kata yang diucapkan oleh anak adalah kata-kata yang tidak sopan, anak tidak akan mengerti dan mengucapkannya begitu saja. Peran orang tua di sini adalah menegur dengan memberikan pengertian pada anak bahwa hal tersebut tidak pantas untuk diucapkan.
Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau membetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.